Lebaran yang istimewa tahun ini. Kami sekeluarga dihadapkan pada pilihan yang berbeda. Ada tayangan film dengan karakter dan visi dakwah yang  menarik untuk ditonton sebagai hiburan sekeluarga. Pertama, dawai 2 asmara yang  dibintangi artis dangdut populer Rhoma Irama dan Ridho sang anak. Kedua, sang pencerah yang menjadi catatan sejarah karena menceritakan riwayat hidup seorang pahlawan nasional, K.H. Ahmad Dahlan.

Akhirnya pilihan jatuh pada tayangan kedua yaitu film sejarah ‘Sang Pencerah’ dengan alasan lihat dulu masa lalu baru tonton masa sekarang. Terus terang tayangan ini sudah lama kutunggu. Film garapan Hanung Bramantyo ini secara keseluruhan cukup indah karena setting kultur budaya tradisional Jawa yang sangat detil tergambarkan secara nyata. Alur kisah yang ditayangkan bernuansa romantis dan humanis sesuai dengan semangat Surah Al Maun dan Surah Al Baqarah 104 yang menjadi visi dakwah sang tokoh cerita Muhammad Darwis. Hal ini terlihat pula dari karakter Lukman Sardi yang memiliki sikap berbeda dari lingkungan tanah kelahirannya sehingga membuat cemburu para sepuh dan kyai.

Visi untuk amar ma’ruf nahi munkar dan menyantuni anak yatim dan fakir  miskin tak pernah lepas dari sikap dan langkah K.H. Ahmad Dahlan dalam menegakkan aqidah yang haq berdasarkan tuntunan Al Quran dan Sunah Rasulullah, namun di tengah jalan banyak tantangan yang ditemui dari lingkungan keluarga sendiri, teman sepermainan, hingga sesepuh dan kyai sampai sang tokoh sentral ‘penghulu mesjid gede’ yang ketakutan akan hilang wibawa dan derajat keagamaan bukan karena Allah tapi pangkat oleh kesultanan Jogya.

Langgar Kidoel desa Kauman menjadi simbol modernisasi ajaran Syeh Siti Jennar saat itu. Jamaah langgar kidoel menjadi yakin dan meyakini sikap Ahmad Dahlan sebagai pelopor pemurnian ajaran Islam. Hebatnya mereka adalah anak-anak muda yang mencintai agamanya tapi tidak taklid sehingga memandang setiap permasalahan selalu dengan rasa nyaman dan tenang  Namun, sang provokator lebih memilih untuk merobohkan langgar kidoel rata dengan tanah.

Ada kesejukkan tergambar dari detik-detik runtuhnya langgar kidoel, yaitu tokoh wanita sang pencerah ‘siti walidah’ yang merasuk dalam semangat jihad Ahmad Dahlan. Getar suara siti walidah mengucapkan surah Muhammad ayat 7 – Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu telah menjadi tenaga untuk bangkit kembali. Begitu indah Hanung menempatkan tokoh wanita dalam film ini sebagai penyejuk dan penebar semangat dalam setiap setting peristiwa.

Aku ingin memberi nama langgar kidoel pada mushala di kampungku. Aku ingin samangat jihad Surah Al Baqarah 104 menjadi pondasi agar tetap berdiri tegak serta kokoh. Aku ingin gairah surah Al Maun terus bergaung dari tangan-tangan jamaah agar nilai ibadah dirasakan hingga ke pelosok.  Walaupun di samping langgar masih ada duri yang siap menusuk dan di seberang jalan ada gaung yang menggema meneriakkan kemusyrikan. Karena aku yakin masih ada kesejukkan yang dirasakan ketika bersujud di mihrabNya.